BUAT APA MEMBACA, LEBIH BAIK BEKERJA

26157938_551677865224644_9175636898448670720_n

Sudah kita ketahui bersama, Indonesia yang merupakan Negeri kita tercinta ini adalah Negara yang kaya.
Kaya akan keramahannya, kaya dalam sumber alamnya, serta kekayaan yang lainnya. Tapi bicara masalah pendidikan yang tentu erat kaitannya dengan aktivitas membaca, maka di situlah ironisnya.
Dalam berbagai seminar yang bertema literasi, pemateri ataupun narasumber kerap menyebutkan bahwa minat membaca di Negeri kita ini sangat rendah. Merujuk pada data yang di keluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012, sebanyak 91,58 % penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas cenderung lebih suka menonton televisi.
Jika data tahun 2012 saja menunjukan angka seperti itu, terlebih pada tahun 2016 dan 2017.
Terakhir pihak Perpustakaan Nasional melakukan kajian terhadap minat baca yang di laksanakan di Pendapa Rumah dinas Bupati Semarang di Unggaran pada kamis 28/4/2016.di ungkap oleh Ibu Titik saat menjadi pembicara pada sebuah acara ‘safari gerakan Nasional gemar membaca’ yang di laksanakan di 12 Provinsi dan 28 Kabupaten/Kota yang mencakup. 75% wilayah indonesia tersebut bahwa kegemaran untuk membaca buku semakin memudar dan terkikis oleh yang namanya Digital.
Dimana internet sekarang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.. Bahkan tidak sedikit dari kita yang berani. Mengalahkan lapar dan dahaganya hanya demi kuota. Cuma sekitar 17,58 % penduduk kita yang gemar membaca buku, surat kabar, ataupun majalah.
Yang lebih mengherankan lagi, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 Negara dalam hal “Rendahnya Minat Baca”.
Sungguh menyedihkan T_T
Sedangkan, secara umum kita ketahui, untuk menjadi sukses, baik itu sukses diri, sukses lingkungan, ataupun juga dalam skala yang lebih besar yaitu suksesnya sebuah bangsa.
Kita mesti cerdas, dan kecerdasan itu tidak mungkin didapat. Hanya dari berleyeh-leyeh saja.
Kecerdasan itu harus di asah, mesti banyak berlatih.
Dan cara yang teramat Efektif,manjur, berpengaruh dan membawa guna adalah dengan membaca..
Bagaimana mungkin kita akan menjadi bangsa yang cerdas, jika budaya membaca telah hilang dari diri kita, terlebih bangsa ini.
Informasi apapun tidak akan kita dapatkan, lalu bagaimana ide akan muncul, dan kemudian bagaimana pula diri ataupun bangsa ini akan bertumbuh dan berkembang jika pengetahuan tak kita miliki.
Sejarah telah membuktikan, setiap peradaban yang maju, merka adalah bangsa yang gemar membaca buku.
Terkahir, kendati sulit membiasakan diri untuk membaca, bukan berarti kita tak bisa melakukannya. Segala sesuatu bisa di lakukan dengan latihan, merutinkan diri meski hanya 10 menit. Jika di lakukan dengan intensitas dan sungguh-sunnguh, niscaya kebiasaan itu akan terbentuk dan akan melekat.

Salam Sukses..

Advertisements

Ayahku pahlawanku

89ff3fec644b1cbcd3dccd4b052d87b3

Darinya aku belajar apa itu kesabaran,
Lakunya mengajarkanku apa itu ketegaran,
Dia berbisik dengan perbuatan bahwa melalui hidup bukan dengan keluhan.
Tak ada manusia yang tak punya resah, tak ada hati yang tak gelisah.
Tapi dia sangat yakin dengan kehidupan, bahwa apapun yang datang, entah berupa ujian atau kesenangan, maka itu adalah bentuk sayang dari Sang Pencipta kehidupan.
“Hidup tak selalu mudah, ucapmu kala itu.tapi senyum ikhlas pada semua takdir akan menjadikan hidupmu indah wahai anakku ”
Nasihat itu selalu saja menguatkanku, kalimat pendek yang disampaikan penuh kasih-sayang mampu terngiang dan menjadi bukti betapa dengannya aku mampu lewati segala,dengannya ku dapat satu persatu meraih cita.
Sungguh, aku yakin dia sangat mencintaiku, dan masih banyak cinta tersembunyi yang aku tak pernah tau,
Ratusan bahkan ribuan kalimat telah naik ke langit untuk kebaikanku, kendati mungkin, lisan ini tak sesering dirimu kala menyebut namaku..
Dunia menunjukan kau telah tiada, tapi jiwa sellau menganggapmu ada.
Marah, canda,serta nasihatmu teramat hidup dalam benakku, tidak akan ada yang bisa mengusirnya, tidak akan pernah ada !!
Ayah…usiaku kini mendekati dewasa, tapi aku tetap saja ingin kau manja.
Betapa kerinduan itu semakin memuncak, aku masih saja ingin kembali ke masa kanak-kanak,masa dimana semua rasa mampu ku dapatkan.masa dimana ketika aku salah kau tak segan beri teguran., namun dari teguran-teguran itulah diri sadar alangkah pentingnya sebuah iman yang kokoh dalam kehidupan.
Kini, satu persatu cita mampu ku gapai, tapi jalanku masih panjang ayah…
Teruslah membersamaiku, selalu hidup dalam mimpi-mimpiku agar ku tumbuh menjadi pribadi yang sesuai inginmu, pribadi yang tangguh, pekerja keras, pemilik pikiran dan hati yang positif, insan yang pandai bersyukur,rendah hati dan sholihah.
Maka, lisan ini melangitkan kalimat sederhana kepada robb-ku.
“Ya Allah, ampuni segala dosa ayah hamba sebesar apapun itu, dan terima segala kebaikannya sekecil apapun itu.”
Dalam setiap tarikan nafas, aku berharap setiap doa yang ku panjatkan layaknya sebuah korek api, dimana setiap doa yang kukirimkan maka sebatang korek akan menyala untuk memberikan penerangan didalam kubur, semakin banyak doa yang ku hadiahkan, semakin banyak pula batang korek api menyala yang akan senantiasa menerangi kuburnya.

Really miss u dad T_T

Hasanah Ahmad~feeling lovely

MUSA DAN HARUN

Hasanah Ahmaad
Betapa aku iri kepada Musa dan Harun.
Bagaimana persahabatan mereka hanya karena-Nya.

*Kala Musa sadar bahwa retorika itu perlu dalam menyampaikan risalah, maka, Harunlah yang ia minta kepada Allah.
Kefasihan Harun dalam memainkan lisannya menjadikan jalan dakwah bagi musa terasa mudah.
Musa menyadari, didalam dirinya ditemui beberapa kelemahan.tersebab itulah, ia teramat bersyukur kala Allah jadikan Harun sebagai sahabat seperjuangan.
Musa begitu takjub dengan Harun, seseorang yang Allah karuniakan yang mampu membersamai jalannya dakwah dengan keyakinan yang utuh, kepercayaan yang tidak tanggung-tanggung.
Meski banyak mata yang memandang Harun tidaklah banyak kontribusinya dalam perjalanan dakwah Nabi Musa.
Hanya Musalah yang tahu pasti bagaimana sesungguhnya.
Betapa doa Nabi Musa kepada Allah yang memuat nama Harun telah membungkam mereka yang dahulu hanya memandang nampak dari luar saja.
“…dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku ( yaitu ) Harun saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan. ( Adanya ) dia, dan jadikanlah dia teman dalam setiap urusanku.
(Thaha, 20:29:32 )
Telah terbukti betapa Harun sangat berharga di sisi Musa, seseorang yang teramat bersejarah dalam perjalanan hidupnya ketika Allah memerintahkan Musa untuk memberi peringatan kepada ayah angkatnya sendiri yang durjana.
Musa tidak pernah minta pasukan, mu’zizat, atau ratusan senjata untuk mengalahkan pasukan yang menghadangnya.
Musa hanya bermohon kepada Allah, agar Allah berkenan jadikan Harun teman dalam setiap urusannya.
Sementara dari Harun, sungguh banyak hal yang mampu di pelajari dari beliau.
Dengannya kita mengerti. bahwa bersama dalam dakwah itu jauh lebih baik daripada sendiri.
Dari Harun kita memahami bahwa tiada sosok yang mampu miliki predikat sempurna, hatta, dia seorang Nabi sekalipun..
Dari Harun kita belajar bahwa setiap persahabatan harus di isi dengan saling mengingatkan. Yang tentu saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kebenaran.
Dari Harun pula kita belajar bahwa pandangan oranglain tak begitu penting, sebab, yang paling penting adalah bagaimana citra diri di hadapan Robbi..

Maka, menjadi Musa ataupun Harun adalah pilihan kita, meski tidak ada kerugian tatkala kita memilih salah satu diantaranya.
Sebab, dua-duanya sama baik, dua-duanya spesial, dan keduanya istimewa.

By Hasanah Ahmad
Sahabat Sampai Syurga

REVIEW NOVEL CINTA DEKAP AKU DALAM KETAATAN

cinta dekap aku dalam ketaatan-novel islami

Novel Cinta Dekap Aku dalam Ketaatan adalah sebuah novel islami karya Hasanah Ahmad dengan ketebalan 205 halaman yang diterbitkan pertama kali oleh penerbit Zukzez Express pada tahun 2016.  Novel ini merupakan novel yang sangat sarat akan nilai-nilai religius yang dapat direnungi, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari terlebih pula dalam tata cara pergaulan interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim.

Novel ini mengungkap dan mengupas lebih dalam tentang hukum-hukum atau syariat-syariat Islam yang dituangkan dalam sebuah karya dengan bahasa yang ringan dan sangat mudah dipahami, dan mengajak pembaca seolah memasuki dan merasakan peran-peran tokoh di dalamnya. Mengungkapkan nilai-nilai illahiyah yang menjelaskan tentang syariat Islam dari berbagai sudut kehidupan yang sehari-hari kita jalani.

Novel ini menceritakan tentang berbagai perjuangan para aktivis dakwah dalam menyampaikan tentang kebenaran dan menyuarakan mana hal yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim dan mana hal yang perlu dijauhi, karena hal yang diutamakan dalam hidup adalah mendapatkan keridhoan Allah, maka untuk menggapainya pun harus dengan cara-cara yang Allah ridhoi pula.

Novel ini menceritakan berbagai pergulatan batin yang dialami oleh tokoh-tokoh. Terdapat hal yang sangat menarik untuk dicerna dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat tokoh bernama Irhab yang dalam perjalanan panjangnya hingga Allah mempertemukannya dalam satu kubu bersama para aktivis-aktivis dakwah, sosok-sosok yang sangat membawa arti dalam kehidupannya yang telah mengenalkan dan membawa dirinya untuk menuju jalan yang terang benderang, sebuah jalan kehidupan yang di dalamnya dipenuhi hidayah dan cinta-Nya Allah Azza wa jalla. Berbagai kesakitan yang harus ia lewati, berbagai permasalahan yang harus ia tuntaskan, hingga melalui tekadnya bahwa hidup adalah hanya untuk Allah telah mengantarkan dirinya pada sosok Irhab yang baru, meninggalkan sosok Irhab yang dulu hanya seorang pemuda yang hidupnya banyak digunakan untuk hura-hura, sering melawan dengan orangtua, dan jauh akan memahami tentang hukum syara.

 

Terdapat pula tokoh lain yang bernama Meira, sahabatnya Zhifa. Sebuah cara penyampaian yang unik disampaikan melalui konflik yang dialami antara Zhifa dan Meira. Manakala itu Meira tepergok oleh Zhifa bahwa Meira telah melakukan sesuatu yang tidak layak dilakukan oleh seorang muslimah terhadap seorang laki-laki yang bukan muhrim baginya. Ketika Zhifa tak sengaja terbaca kiriman pesan di handphone Meira dari seorang laki-laki yang bukan muhrimnya namun terdapat kata-kata yang tak selayaknya diucapkan oleh dua orang yang tak memiliki ikatan halal. Hingga melalui nasehat-nasehat bijak Zhifa yang santun mampu menyentuh hati Meira bahwa yang ia lakukan selama ini terhadap laki-laki tersebut bukan lah hal yang layak untuk dilakukan, karena ia tersadarkan bahwa hubungan yang spesial antara dua orang yang belum berada dalam ikatan halal hanyalah akan berbuah dosa.

Novel ini juga mengungkap kisah yang sangat heroik tentang perjuangan berat yang harus dilalui oleh Irhab untuk menyadarkan sang kakak dalam menuju ke jalan yang benar, jalan yang Allah ridhoi. Irhab berjuang berupaya dalam menuntun sang kakak untuk bersama menuju jalan cinta-Nya, sebuah jalan yang dihiasi dengan ketaatan. Berusaha membantu sang kakak untuk keluar pada zona yang selama ini melenakannya, kehidupan yang hura-hura, mengonsumsi hal-hal yang terlarang, selalu memunculkan keegoannya terhadap orangtua, dan berbagai keonaran lainnya yang membuat keluarganya hampir menyerah dalam menyikapi sang kakak. Namun berkat dengan kesabaran, kesungguhan, keikhlasan, dan kelembutan hati Irhab mampu mengajak bersama sang kakak untuk bersama meraih cinta-Nya Allah dengan bingkai ketaatan.

Novel ini juga mengungkapkan kisah yang heroik yang dialami oleh salah satu tokoh yang bernama Aqila yang berusaha begitu tegar berjuang untuk melawan sakit yang selama ini  dialaminya. Dia tetap tegar, senantiasa memberikan ulasan senyum di wajahnya, tak pernah ia mengumbar kepada adik-adiknya tentang penyakit yang dialaminya. Dia wanita yang begitu kuat dalam menahan semua sakit yang ia rasakan, berbagai cobaan yang harus ia lewati, maka karena sakit yang dideritanya itu membuat orangtuanya sangat prihatin kepada Aqila. Namun, sayangnya berbagai bentuk perhatian yang diberikan oleh orangtuanya tersebut membuat salah satu adiknya berprasangka tak baik, seakan-akan menggambarkan perhatian orangtuanya lebih besar kepada kakaknya, Aqila. Hingga akhirnya, di suatu hari barulah ia mengetahui bahwa kakaknya, Aqila mengidap penyakit  parah yang bisa saja menyebabkan kematian itu lebih dekat, meski pada akhirnya kuasa Allah turun untuk kesembuhannya,namun Aqila menyadari bahwa kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati dalam menjalani semua prahara kehidupan ini akan selalu ada untaian hikmah di dalamnya. Hal yang terpenting ialah terus berjalan di atas jalan yang Allah ridhoi untuk mengharap cinta yang hakiki, cinta yang tak semu, dan sesungguh-sungguhnya cinta ialah cinta-Nya Allah azza wa jalla. Dan untuk menggapai cinta itu hanyalah satu ialah mendekapnya dengan ketaatan.

 

Audina

-Penulis buku_

SEBAIK TEMAN

“Sebaik-baik teman duduk ialah buku 📚.”
➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖ ➖
Yuk gaes hiasi diri kita dengan ilmu 😊
=========”””=========
USTADZ FELIK SIAW

CINTA, DEKAP AKU DALAM KETAATAN

jangan pernah meminta untuk melupakan cinta

sebab ia adalah fitrah terindah untuk manusia

hargailah cnta…

dengan tunduk terhadap pemilik cinta sebanarnya

karena tidak akan pernah insan merasa tersiksa bersebab cinta

jika cinta tersebut di kemas dengan penuh ketaatan kepada-Nya.Cinta dekap aku dalam ketaatan