Image

bunga merah

bunga merah

warna merah adalah warna yang sebenarnya sangat indah di pandang mata,
aku ingin menjadi bunga seperti itu terutama sikapku yang bisa buat orang lain merasa nyaman ketika ada di sampingku
semoga itu bisa terwujudkan ya tuhan……

Advertisements

KATA MUTIARA INDAH UNTUK SEORANG IBU

, tidak dipungkiri lagi Jasa Seorang Ibu memang sangat berarti buat kita. Beliau merawat dan menjaga kita dari sejak dalam kandungan sampai kita tumbuh dewasa saat ini. kasih ibu untuk anaknya tak terhingga dan sepanjang masa.

untuk menghormati jasa-jasa Ibumu apa yang telah anda lakukan buat Beliau ? sudahkan membuat beliau tersenyum ? atau malah membuat Ibu menangis batin. kita sering kali mengecewakan Hati Ibu bahkan membuat Ibu menangis, saya pun pernah melakukan itu , bahkan sering 😥

Kata Mutiara Indah untuk Seorang Ibu

tak kala selalu ada penyesalan setiap mengingat hal tersebut, cobalah mulai berubah dari sekarang waktumu tidak banyak, pesan-pesan saya “Bahagiakanlah Ibumu selagai masih Hidup”, pahamkan dengan arti tersebut, jangan pernah menyesal dikemudian hari kalau ibu telah meninggalkanmu.
untuk menghargai jasa ibu, saya akan berbagi artikel seputar “Kata Mutiara Indah untuk Seorang Ibu” berikut kata-kata yang wajib kita renungi :

Saat kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna. Sebagai balasannya, kamu coret-coret dinding rumah dan meja makan.
Ibu, Malaikat yang Dikirim Tuhan untuk Menjagamu..
Nak.. semoga engkau juga bisa menjadi ibu bagi anak-anakmu kelak.

Terima Kasih atas jasa yg kau berikan Ibu,, Terima kasih atas air mata ketulusan & senyuman dibalik kelelahan..
Ayah Ibu, Aku Berjanji akan Membahagiakanmu..

Kasih Anak Sepanjang Jalan, Kasih Ayah Ibu Sepanjang Hayat.
Ibu selalu menyayangiku, meski terkadang aku tak mau mengerti betapa aku telah melukai perasaanmu Ibu..

Aku berhutang pada Ibu, Sebuah hutang yang aku tahu tak akan pernah bisa kubayar selama hidupku.
Seorang Ayah mungkin bekerja dari matahari terbit hingga terbenam, Tapi seorang Ibu tak pernah berhenti bekerja.

seorang Ibu yang selalu ingin anaknya bahagia, karena mereka segalanya.
Terima Kasih Ibu, kau adalah wanita terbaik yang pernah diberikan Tuhan kepadaku.. love u foreveer
Do’aku selalu untumu Ibu
Maafin Ibu yaa.. Nak…
Mom i miss u so much dear
Kalau anaknya sampe larut malam gini blom pulang, Maka yg dilakukan ayah adalah menunggu di ruang tamu dgn sngat khawatir.
Tanah ku yang ku cintai.. Engkau ku hargai (ง˘▽˘)ง
Keindahan dalam kesederhanaan, hanya didapat dari sosok seorang Ibu 🙂
Ibu itu tak pernah melihat keburukan seorang anak…
#AyahIbu adalah pintu surga yang paling tinggi.

Nak, Ayah hanya berpesan kepadamu, jujurlah pada semua orang, walaupun jujur itu menyakitkan.
Nak, Apakah hatimu tdk tersentuh, trhdp seorang wanita tua yg lemah, binasa dimkn oleh rindu berselimutkan kesedihan, & berpakaian kedukaan?
Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain. #AyahIbu
Nak, Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?
ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.
Aku mrsa puas, stp aku menimbang diriku, krn bila smkn hri smkn berat perutku, brrti dgn begitu engkau sht wal afiat di dlm rahimku. #IBU
Aku tidak pernah tahu seberapa besar ruang hatiku dapat memuat kasih, sampai seseorang memanggilku, “IBU”
Mom, you’re my everything for my (´⌣`ʃƪ) ♥ i will always love you..
Dalam jantungku, ada nama yang berdetak tanpa henti. Nama yang tak pernah lelah kusebut dalam doa yaitu nama Ibu 🙂

seorang ibu sanggup memafkan anak yang pernah melukai hatinya ..
dear mother i can’t to be a good son for you :’)
Ibu itu bagaikan wonderwoman yang slalu ada buat gue.. ♥
Nak, jadilah anak yg soleh dan berbakti kepada Ayah ibu.
Nak, Mudah2an kita selalu ada di jalan yg benar #Ayah
Nak, ini sarapan dulu sebelum berangkat” rindu kata-kata ibu yang lembut.
Ayah yang selalu bangun paling pertama dan kemudian membangunkan Ibu dan anak2nya.
Teriring doa, selalu, untuk Ayah Ibu dan adikku tercinta 🙂
Demikian Informasi terbaru seputar “Kata Mutiara Indah untuk Seorang Ibu“, memang kasih Ibu tiada duanya, benar kata pribahasa yang menyebutkan bahwa “Surga terletak dibawah Kaki Ibu”, Buatlah Ibumu Menangis karena Bangga oleh perilakumu,
Searches related to Kata Mutiara Indah untuk Seorang Ibu 

 

Mulianya Menjadi Seorang Ibu

Tidak ada sekolah khusus untuk menjadi ibu, seperti sekolah menjadi dokter,perawat, guru dan atau berbagai profesi lainnya. Memang ada berbagai seminar dan buku-buku tentang menjadi ibu yang baik, atau tentang bagaimana mendidik anak dan berbagai tema yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seorang ibu. Namun tetap saja itu bukanlah sebuah sekolah dan tidak pernah cukup untuk mempersiapkan dan melengkapi seorang wanita untuk menjadi ibu. Menjadi ibu adalah sebuah kehormatan, sebuah pelayanan yang tidak tampak di muka umum namun memiliki tanggung jawab yang tidak mudah untuk dilakukan. Menuntut pengorbanan dan kerelaan hati. Menyita 24 jam jatah hidup kita, dalam 7 hari seminggu, 52 minggu setahun. dan berbeda dengan yang mungkin dialami oleh para pekerja kantor dengan fasilitas cuti, menjadi seorang ibu tidak ada istilah cuti walau bagaimanapun kita lelah dan penat.

Menjadi ibu berarti selalu siap mengulurkan tangan menjawab kebutuhan anak, tidak peduli rasa letih menguasai tubuh. Memberikan pelukan hangat di saat anak merasakan kesepian. Menghibur anak kala mereka bersedih, mendorong penuh semangat ketika mereka gagal,  dan selalu memberikan yang terbaik untuk mereka dalam keadaan atau situasi seperti apapun. Seperti kisah bunda hajar yang menunjukkan ketegaran, kekuatan iman, dan ketawakalan jiwa yang luar biasa. Beliau kala itu hanya bersama anak semata wayangnya Ismail di suatu padang tandus yang bahkan tidak ada rumput tumbuh. Dan mendapati perbekalannya hampir habis, Hajar berlari menuju Bukit Shafa, berharap bertemu dengan suatu kafilah yang lewat untuk dimintai pertolongan. Tak ditemuinya seorangpun, beliau turun untuk menuju Bukit Marwah. Begitulah, beliau dengan khawatir, mondar-mandir hingga tujuh kali karena Ismail terus menerus menangis kehausan. Semua hal tersebut dilakukan bunda Hajar demi membahagiakan anaknya dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.  Dan Allah adalah yang Maha Menepati Janji. Di tengah kekalutan, muncullah mata air yang letaknya dekat dengan Ismail. Hajar bergegas menuju mata air tersebut dengan penuh rasa syukur.
Sebagai ibu dan manusia biasa, terkadang kita mengeluh dan mengasihani diri hingga terpuruk dalam kondisi kita yang mungkin sangat sulit saat ini. Namun cukuplah kisah bunda Hajar menjadi cermin bagi diri agar kita untuk banyak belajar menjadi wanita tegar, setegar beliau dalam mengikhlaskan diri, menerima dan melaksanakan tugas beliau sebagai ibu dan seorang istri. Setiap menit adalah sarana kita bersekolah  menjadi ibu. Dan Setiap hari akan selalu ada pelajaran baru. Tidak akan pernah habis sampai akhir hayat kita, semua Tergantung kepada kita apakah kita mau belajar atau tidak, untuk menjadi ibu ibu teladan bagi anak- anak kita, dan karena menjadi ibu adalah tugas yang sangat mulia.(rps)

 

 

Salam Perjuangan Syariah dan Khilafah K.H Arifin Ilham

Salam Penegakkan Khilafah dari Ust. Arifin Ilham
================================

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Jazakumullah, al ‘ulama al ahibbaa’ fillah..

Arifin mohon maaf lahir batin.

Ikhwah fillah
Persoalan terbesar bagi umat Islam saat ini yang mengalami kekalahan di semua lini, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, bahkan semua aspek kehidupan karena umat Islam telah meninggalkan Islam, meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, dan sampai puncaknya adalah krisisukhuwah. Bukan hanya bagi umat Islam, bahkan bagi ulamanya sendiri.

Ikhwah fillah
Kenapa kita tidak punya haibah? prestise di dunia, di negeri sendiri? Pada lingkungan kita sendiri kita tidak punya haibah, karena kita tidak punya al-quwwah, kekuatan. Kenapa tidak punya al-quwwah? karena tidak punya wahdah, kita sejujurnya belum bersatu, tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta… (Al-Hasyr, 59: 14)

Kesannya saja, retorikanya kita bersatu, sebenarnya kita masih ingin eksis dengan jati diri masing-masing, mazhab masing-masing, pendapat, kelompok, organisasi masing-masing.

Kenapa kita gak punya wahdah? ya… karena kita mengalami yang disebut dengan ukhuwah, saling cinta karena Allah, saling tolong karena Allah, saling menghargai karena Allah, saling mendo’akan karena Allah, saling mendukung karena Allah, saling menutupi aib karena Allah.

Kadang tidak perlu duduk bersama, tapi hati bersama itu jauh lebih utama. Dan tentu jauh lebihafdhal duduk bersama dan hati kita bersama seperti shaf shalat berjama’ah.

Nah… kenapa tidak mengalami kekuatan ukhuwah itu? karena kita mengalami krisis iman. Allah, ridha-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, hidayah-Nya, berkah-Nya, Rasul-Nya, akhirat-Nya bukan menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap aktifitas kita.

Maaf, mungkin ini terlalu kasar… Bahasanya agama, tapi hatinya dunia,

…وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ…
(Ali ‘Imran, 3: 152)

Kelumpuhan terjadi bagi umat Islam dan terutama para juru dakwah adalah karena mereka lebih melihat ghanimah ketimbang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ikhwah…
Kalau Allah dan Rasul dan akhirat menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap harakah dakwah kita, maka kita akan mengedepankan, mengutamakan dakwah, itu yang menjadi skala prioritas, main goal, dalam semua aktifitas kita, dakwah, dakwah, dakwah, tanpa diundangpun dakwah. Kita menunggu undangan, baru dakwah.

Ulama yang terbaik itu ulama air hujan, yang menghujani siapa pun, minimal ulama mata air yang orang datang rindu kepadanya. Jangan jadi air pam, air pam itu kalau gak diundang, gak keluar dia, kalau gak dibayar gak keluar dia, gak tsiqah dalam dakwah, memilah milih dalam dakwah, akhirnya retorika-retorika saja, intinya dia mencari duit.

Ini ngamen ya ikhwah, atau menjadi juru dakwah air comberan, munafik, dia berbuat maksiat.

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(Ash-Shaff, 61: 3)

Nah… dakwah kita utamakan, kita berkumpul karena kita mengutamakan dakwah, kita bisa bersama karena mengutamakan dakwah. Jadi benang tasbih walaupun bijiannya warna warni, kalau benangnya adalah dakwah, kita akan bisa bersama ya ikhwah.

Islam bisa berkembang karena dakwah, Rasul menyebarkan dakwah, lalu dilanjutkan para sahabat. Sahabat wafat, dilanjutkan tabi’ut tabiin, lalu salafus shalih. Dan kita bisa begini pun karena dakwah, maka dakwahlah utamakan.

Dimulai dakwah pada diri sendiri, fardiyah, ahliyah, keluarga kita, lalu sahabat-sahabat kita, lalukhususiah orang-orang penting, lalu ijtima’iyah, tabligh, ta’lim, kemudian ‘umumiyah, siapapun didakwahi tanpa merasa paling suci.

Kemudian kalau dakwah yang menjadi prioritas, maka yang kedua adalah ukhuwah. Nah… buahnya dari orientasi dakwah itu ukhuwah. Banyak kita berbeda paham dengan kawan-kawan.

Misalnya Arifin, ada yang membid’ahkan zikir, Arifin sayang kepada kawan-kawan yang membid’ahkan zikir. Tidak ada masalah, tidak penting perbedaan itu, yang penting ukhuwahnya, yang penting dakwahnya.
Hanya karena perbedaan qunut… Ndak penting perbedaan itu, yang penting dakwahnya, ukhuwahnya, ndak penting zikir berjama’ah itu, yang penting ummat itu bertaubat dan sebagainya, itu yang penting.
Jadi hal-hal yang kecil yang masih persoalan furu’iyah bukan ushuliyah, kecuali yang sudah difatwakan jelas, bayan, clear, oleh Majelis Ulama Indonesia. Ada yang kita bersama, ada yang tidak bisa kita bersama.

Kemudian yang ketiga.. kalau sudah dakwah yang menjadi prioritas maka ukhuwah. Kalau “iyyaka na’budu wa iyyaka nast’ain” kalau Allah menjadi tujuan kita “na’budu”, kami beribadah bersama, kami mohon pertolongan kepada Allah, kami.. bukan aku.. kami… ‘aku’, ‘kamu’.. lebur menjadi ‘kami’. “shaffan ka annahum bunyaanun marshush” (Ash-Shaff, 61: 4).

Nah, kemudian yang ketiga: maslahah. Kalau sudah ukhuwah, maka ke-maslahah-nya yang dikedepankan. Maslahahnya apa?

Kita di samping masjid Az-Zikra ada mushalla yang berbeda, yang mereka tidak sependapat dengan speaker (aspek) anti-speaker. Mushallanya hancur, bocor, kita bangunkan. Subhanallah… gak ada masalah speaker nggak speaker, maslahahnya untuk ummat biar bisa shalat di mushalla itu. Ya… Allah… ini kemaslahahan yang harus dikedepankan setelah ukhuwah dan prioritas dakwah.

Maka Arifin bahagia sekali, walaupun keadaan hanya bisa melewati ini, tapi Arifin menyayangi semua, ayah, ikhwah fillah, kawan-kawan, juru-juru dakwah.

Ini saatnya bukan lagi retorika-retorikaan, bukan main-main lagi dakwah, bukan lagi eksis-eksis sendirian lagi, ndak perlu lagilah dengan ge-er dengan pujian, ndak perlu lagi sakit hati dengan hinaan.

Saatnya kita menjadi teladan bagi ummat, jadi mata air, jadi cahaya, apa yang di hati itu yang difikirkan, apa yang difikirkan itu yang diucapkan, apa yang diucapkan itu diamalkan, istiqamah,tsiqah, lahir batin ta’at kepada Allah jalla jalaluhu, figur teladan bagi ummat, tidak main-main, tidak lagi menjual-jual, main-main kata, penuh dengan gaya-gaya.

Tidak perlu lagi takut dengan caci maki, hinaan, gosip. Dakwah liyuhiqqal haqqa wayubthilal bathilawalau karihal mujrimun… (Al-Anfaal, 8: 8). Keniscayaan akan dicaci maki oleh orang mujrimun itu.
Fitnah itu memang menyakitkan, kotoran, tapi bagi orang beriman dia bisa olah menjadi pupuk yang menyenangkan, pupuk yang menyuburkan keimanannya.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

(Al Furqan, 25: 63)

Ketahuilah ya ikhwah, yang paling pantas berdakwah itu siapa? Hamba Allah yang istiqamah, yang tidak main-main dengan kata-katanya, bukannya surat Fushshilat (menerangkan),

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا…

(Fushshilat, 41: 30)

Lihat setelah itu,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(Fushshilat, 41: 33)

Mereka yang istiqamah lalu mereka berdakwah,
Ikhwah, al lughah al madzuqah, bahasa itu rasa, ummat itu bisa merasakan mana main-main kata, mana yang serius dalam berdakwah, mana yang istiqamah, mana yang dalam setiap kata-katanya yang benar-benar tulus mencintai ummat.

Maaf ikhwah, kalau Arifin menyampaikan ini. Inilah keadaan sekarang, mudah-mudahan Arifin dan semua ikhwah, Allah bersamakan dalam ridha-Nya, dalam rahmat-Nya, dalam ampunan-Nya, dan hidayah-Nya, dalam berkah-Nya, dalam harakah dakwah-Nya. Kita bersama walaupun tidak harus duduk kita bersama, suatu saat kita duduk bersama lalu kita bersama-sama.

Puncak perjuangan kita adalah tegaknya syari’at Allah di negeri yang kita cintai ini dan tegaknya khilafah Islamiyah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتْوبُ إِلَيْكَ

Banyak salah Arifin, uhibbukum fillah.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. 

Saya ingin Membuat Kedua Orang Tua Saya Menangis

Sudah cukup tenar rasanya cerita Malin Kundang di telinga kita. Ada banyak versi dari cerita rakyat Minangkabau ini. Salah satu versinya adalah Malin Kundang yang hidup miskin bersama ibunya, pergi merantau ke negeri orang. Setelah sukses dan kaya raya, beristri kaya dan cantik, dia ada urusan dagang ke kampung halamannya. Saat itu dia bertemu dengan ibunya, namun tidak mau mengakui ibunya karena malu kepada istri dan para bawahannya. Ibu Malin Kundang menangis karena merasa tersakiti dan berdoa supaya Malin Kundang menjadi batu. Do’a tersebut dikabulkan dan Malin Kundang berubah menjadi batu.
Saya tidak tahu kebenaran cerita tersebut, tapi bukan cerita itu yang mau saya bagi di sini. Saya punya beberapa keinginan untuk membuat orang tua saya menangis. Bukan menangis sedih seperti yang dilakukan oleh Malin Kundang, namun menangis bahagia.
Saya keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan swasta beberapa tahun lalu bukan semata-mata karena ingin buka usaha, lalu ingin cepat kaya. Ya, itu benar, saya tidak memungkiri. Siapa sih yang tidak mau cepat kaya? :D . Terus terang walaupun Nabi pernah bersabda bahwa kebanyakan penghuni surga adalah dari orang miskin, saya belum berani berdoa minta miskin.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ
Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku berdiri di pintu surga, maka kulihat orang-orang yang masuk ke dalamnya kebanyakan dari orang-orang miskin. (HR Muslim K. Dzikir)
Salah satu alasannya, saya merasa belum bisa membalas kebaikan kedua orang tua. Susah rasanya kalau berharap kaya hanya dari penghasilan dari menjadi karyawan biasa. Saya masih punya mimpi, ingin membangun panti jompo, supaya kedua orang tua saya bisa ada di situ. Bukan untuk mengucilkan mereka, namun justru supaya di akhir perjalanan hidup mereka, agama mereka bisa terjaga. Saya bisa mendampingi mereka dan ada pengajian rutin yang bisa diikuti oleh mereka, supaya mereka bisa meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah (akhir yang baik).
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Sesungguhnya amal perbuatan itu dihitung di akhirnya. (HR Ahmad)
Saya ingin membuat kedua orang tua saya menangis di akhir hidup mereka.
Biasanya alasan orang keluar dari pekerjannya dan memilih untuk buka usaha sendiri karena:

  • Ingin waktu yang lebih bebas.

Ingin lebih cepat kaya.
Sayangnya, banyak juga yang setelah keluar dari pekerjaannya, malah kedua hal tersebut tidak didapat. Kaya ngga, punya banyak waktu longgar juga ngga.
Sewaktu jadi karyawan, justru penghasilan teratur. Dengan kerja sendiri, penghasilan tidak tetap dan malah sering kurang.
Sewaktu jadi karyawan, cukup kerja dari jam 8 s/d 17, Sabtu Minggu libur. Dengan kerja sendiri, bisa kerja dari Subuh sampai Isya, kadang Sabtu Minggu juga terus bekerja. Alasannya sih, bersusah-susah dulu, bersenang-senang kemudian. Tapi kalau seperti itu terus, gimana?
Jadi tidak selalu menjadi pengusaha itu lebih baik. Kalau kata Robert Tiyosaki, peulis buku Rich Ad Poor Dad, orang yang usaha sendiri tapi malah makin sibuk, apalagi penghasilannya malah jadi lebih sedikit daripada saat menjadi karyawan, itu masih tetap di kuadran kiri, belum masuk ke kuadran kanan. Mereka hanya pindah jalur dari E (Employee) menjadi S (Self-Employee), bukan pindah ke B (business) atau I (Investor).Tujuan saya keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan di antaranya juga karena kedua hal tersebut. Tapi ada hal yang lain lagi yang saya cari. Sewaktu bekerja sebagai karyawan, saya tidak bisa memfokuskan ibadah saya. Padahal tujuan Alloh menciptakan jin dan manusia adalah untuk menyembah-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. (QS Ad-dzariyat 56)
Alhamdulillah, dengan niat untuk lebih bisa banyak beribadah, waktu lebih longgar, penghasilan juga tidak jauh berbeda dengan sewaktu kerja tetap. Yang dulu hampir belum pernah mengkaji Kutubu Sittah, sekarang sudah cukup banyak isi. Yang dulu saya hampir belum pernah menghapalkan Qur’an lagi (kalau tidak salah terakhir itu waktu SMU, itu pun terpaksa supaya dapat nilai di pelajaran agama), sekarang sudah lumayan ada yang dihapal walau belum begitu banyak.
Yah…saya memang belum sempurna, masih sering berbuat lahan dan hal-hal jelek lainnya. Tapi setidaknya ada usaha ke arah yang lebih baik.
Keinginan menghafalkan Qur’an di atas terutama karena mengkaji hadits berikut:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ
“Barangsiapa membaca Al Qur`an dan menghafalkannya, maka Alloh akan memasukkannya ke dalam surga serta akan memberi syafa’at (ampunan) kepada sepuluh dari keluarganya yang seharusnya masuk neraka.” (HR Ibnu Majah)
Setidaknya, saya ingin bisa memberikan syafa’at kepada dua orang, yaitu kedua orang tua saya. Berbagai hal di dunia tidak bisa membalas kebaikan orang tua.
لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ
“Seorang anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya hingga ia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu ia membeli dan membebaskannya.” (HR Abu Daud K. Adab)
Itu pun tidak bisa membalas jasanya sejak kecil. Pembebasan itu hanya membalas sedikit jasa orang tua kepada kita. Karena itu, saya mencari cara untuk bisa membalas keduanya di akhirat nanti.
Saya ingin membuat kedua orang tua saya menangis saat di akhirat kelak.