PROSA KEHIDUPAN

Jpeg

Dalam prosa kehidupan

Taburkan keikhlasan dalam dalam

Cabang kecemburuan menguntai

Lihat diri larut akan perasaan

 

Aneka bunga di tamanku melayu

Hamparan indahnya nampak lesu

perasaan itu membuat tabir

kikir akal untuk berpikir

 

lama nian aku terjebak

merasa benci dan muak

tak rela bungaku bertambah layu

hanya sebab rasa yang semu

 

kini, ku ketuk kembali taman bunga

membawa berita dengan romansa duka

bungaku menghibur dikala luka

dengan aroma wangi yang dimilikinya

 

perlahan, aku ikhlaskan semua rindu

berbahagia tanpa harus memikirkanmu

sepucuk kata pamit dari lisanku

mengukir bahagia tanpa meragu

Advertisements

Akhwat nge-Trip

20151129_16221020151129_161838.jpgMenjadi seorang muslimah yang baik katanya harus diam dirumah saja tanpa harus kemana-mana,Bahkan yang pernah saya dengar langsung ke telinga saya seorang muslimah itu tak perlu jalan jalan kemanapun, karna dia sudah cukup bahagia dengan firman Tuhannya lewat Alquran yang selalu ada di tangan Serta hatinya

Mereka beranggapan tugas seorang wanita itu utamanya di rumah,bukan di luar rumah.seperti firman Allah dalam Alquran yang bunyinya :

‘’Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu….

(Qs.Al Ahzab:33)

jujur saya tidak pernah keberatan dengan pernyataan itu,terlebih jika pernyataan itu bersumber dari alquran dan hadist,saya tidak berhak untuk menolak barang sedikitpun

karna itu memang tidak patut untuk di ragukan,Namun,di luar pembahasan itu Allah juga memberikan hak kepada wanita sama seperti yang diberikannya kepada laki laki dalam menikmati semua fasilitas alam yang di ciptakan-Nya di dunia ini

Well, menurut saya itu tak sepenuhnya salah namun saya juga tak membenarkan jika wanita sekarang lebih memprioritaskan pekerjaan di luar rumah sebagai wanita karier misalnya di bandingkan pekerjaan domestik yang memang lebih wajib bagi dirinya

Topik saya kali ini hanya membahas bagaimana hukumnya jika wanita jalan-jalan ke pantai ataupun mendaki bersama temannya-temannya yang sesama wanita juga

Buat saya pribadi,tak ada larangan ketika seorang wanita muslimah sesekali keluar rumah dan jalan-jalan melihat alam,bukan untuk apa apa kok,hanya sekedar membuat jiwa lebih fres aja dari kepenatan dunia yang mencengkeram pikirannya dan dari situ pula kita menyadari banyak alam yang Allah ciptakan dan Allah menyuruh kita untuk menikmatinya secara gratis,keren kan !!!

Sesuai dengan firman-Nya:

‘’Dan kamu lihat gunung gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya,padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap2 sesuatu.sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(Qs. An Naml:88)

Bukan berarti ketika ingin menjadi muslimah yang baik akhirnya membuat keputusan menjadi muslimah yang mengurung diri dirumah saja,tak kemana-mana dan tak bisa bersosialissi,sampai bisa di sebut menjadi muslimah yang ekslusif

Guys,bukankah islam masuk ke indonesia tidak dengan begitu saja,para cendikiawan muslim terdahulu lihai dalam bersosialisasi sehingga mereka mudah menyampaikan islam di tengah-tengah masyarakat dengan kekuatan argumen yang di miliki,Termasuk kepelosok daerah yang sama sekali belum tersentuh dan tidak mengenal islam seperti apa & bagaimana

Dengan kesantunan dan rasa keakraban yang di ajarkan oleh islam itulah, cendikiawan muslim terdahulu menyampaikan agama yang Haq ini kepada orang lain,dengan demikian,orang lain pun dengan lambat laun akan memahami kebenaran apa apa yang kita sampaikan,

Dengan melihat alam yang indah pula,bertambah keyakinan dalam jiwa bahwa semua yang ada di dunia tidak mungkin ada dengan sendirinya

Ada Dzat yang menata dengan penataan yang sempurna sehingga mata manusia mampu menikmati semua pemandangan dengan percuma

Jadi tidak mengapa jika kita melakukan perjalanan buat taddabur alam yang mana di sana kita mampu bertafaqqur akan kebesaran dan keagungan Allah, dengan melihat semua yang telah di ciptakan-Nya,namun sekalipun islam telah memberikan ruang untuk melakukan perjalanan,islam juga mempunyai batasan dan ketentuan yang harus di laksanakan sesuai tuntunan alquran

Yakni di larang melakukan perjalanan bersama non mahrom,dan melalaikan semua amanah yang telah di bebankan

Jika semua telah tertunaikan..susurilah bumi Allah dengan perlahan,hingga sampai kau temukan ketakjuban serta keajaiban yang Allah berikan,

Akhirul kalam,

Kesempurnaan hanya milik Allah,Sedang kesalahan dan kekhilafan semata-mata datangnya dari saya pribadi

Wallahu alam bisshowab..:-)

HARAPANKU

Aku ingin menikmati Awan tanpa tekanan
Aku ingin menjalani hidup tanpa beban\
Aku ingin hidup sukses dengan penuh kebanggaan
Namun tanpa melupakan bahwa semua ini adalah limpahan dari Tuhan..

Ajari aku ikhlas sekalipun itu tak mudah. .
Ajari aku memberi bukan sekedar menengadah. .
Ajari aku bersyukur dengan hati yang rendah. .
Agar ku dapat semuanya dengan penuh berkah. .

Salam Perjuangan Syariah dan Khilafah K.H Arifin Ilham

Salam Penegakkan Khilafah dari Ust. Arifin Ilham
================================

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Jazakumullah, al ‘ulama al ahibbaa’ fillah..

Arifin mohon maaf lahir batin.

Ikhwah fillah
Persoalan terbesar bagi umat Islam saat ini yang mengalami kekalahan di semua lini, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, bahkan semua aspek kehidupan karena umat Islam telah meninggalkan Islam, meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, dan sampai puncaknya adalah krisisukhuwah. Bukan hanya bagi umat Islam, bahkan bagi ulamanya sendiri.

Ikhwah fillah
Kenapa kita tidak punya haibah? prestise di dunia, di negeri sendiri? Pada lingkungan kita sendiri kita tidak punya haibah, karena kita tidak punya al-quwwah, kekuatan. Kenapa tidak punya al-quwwah? karena tidak punya wahdah, kita sejujurnya belum bersatu, tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta… (Al-Hasyr, 59: 14)

Kesannya saja, retorikanya kita bersatu, sebenarnya kita masih ingin eksis dengan jati diri masing-masing, mazhab masing-masing, pendapat, kelompok, organisasi masing-masing.

Kenapa kita gak punya wahdah? ya… karena kita mengalami yang disebut dengan ukhuwah, saling cinta karena Allah, saling tolong karena Allah, saling menghargai karena Allah, saling mendo’akan karena Allah, saling mendukung karena Allah, saling menutupi aib karena Allah.

Kadang tidak perlu duduk bersama, tapi hati bersama itu jauh lebih utama. Dan tentu jauh lebihafdhal duduk bersama dan hati kita bersama seperti shaf shalat berjama’ah.

Nah… kenapa tidak mengalami kekuatan ukhuwah itu? karena kita mengalami krisis iman. Allah, ridha-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, hidayah-Nya, berkah-Nya, Rasul-Nya, akhirat-Nya bukan menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap aktifitas kita.

Maaf, mungkin ini terlalu kasar… Bahasanya agama, tapi hatinya dunia,

…وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ…
(Ali ‘Imran, 3: 152)

Kelumpuhan terjadi bagi umat Islam dan terutama para juru dakwah adalah karena mereka lebih melihat ghanimah ketimbang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ikhwah…
Kalau Allah dan Rasul dan akhirat menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap harakah dakwah kita, maka kita akan mengedepankan, mengutamakan dakwah, itu yang menjadi skala prioritas, main goal, dalam semua aktifitas kita, dakwah, dakwah, dakwah, tanpa diundangpun dakwah. Kita menunggu undangan, baru dakwah.

Ulama yang terbaik itu ulama air hujan, yang menghujani siapa pun, minimal ulama mata air yang orang datang rindu kepadanya. Jangan jadi air pam, air pam itu kalau gak diundang, gak keluar dia, kalau gak dibayar gak keluar dia, gak tsiqah dalam dakwah, memilah milih dalam dakwah, akhirnya retorika-retorika saja, intinya dia mencari duit.

Ini ngamen ya ikhwah, atau menjadi juru dakwah air comberan, munafik, dia berbuat maksiat.

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(Ash-Shaff, 61: 3)

Nah… dakwah kita utamakan, kita berkumpul karena kita mengutamakan dakwah, kita bisa bersama karena mengutamakan dakwah. Jadi benang tasbih walaupun bijiannya warna warni, kalau benangnya adalah dakwah, kita akan bisa bersama ya ikhwah.

Islam bisa berkembang karena dakwah, Rasul menyebarkan dakwah, lalu dilanjutkan para sahabat. Sahabat wafat, dilanjutkan tabi’ut tabiin, lalu salafus shalih. Dan kita bisa begini pun karena dakwah, maka dakwahlah utamakan.

Dimulai dakwah pada diri sendiri, fardiyah, ahliyah, keluarga kita, lalu sahabat-sahabat kita, lalukhususiah orang-orang penting, lalu ijtima’iyah, tabligh, ta’lim, kemudian ‘umumiyah, siapapun didakwahi tanpa merasa paling suci.

Kemudian kalau dakwah yang menjadi prioritas, maka yang kedua adalah ukhuwah. Nah… buahnya dari orientasi dakwah itu ukhuwah. Banyak kita berbeda paham dengan kawan-kawan.

Misalnya Arifin, ada yang membid’ahkan zikir, Arifin sayang kepada kawan-kawan yang membid’ahkan zikir. Tidak ada masalah, tidak penting perbedaan itu, yang penting ukhuwahnya, yang penting dakwahnya.
Hanya karena perbedaan qunut… Ndak penting perbedaan itu, yang penting dakwahnya, ukhuwahnya, ndak penting zikir berjama’ah itu, yang penting ummat itu bertaubat dan sebagainya, itu yang penting.
Jadi hal-hal yang kecil yang masih persoalan furu’iyah bukan ushuliyah, kecuali yang sudah difatwakan jelas, bayan, clear, oleh Majelis Ulama Indonesia. Ada yang kita bersama, ada yang tidak bisa kita bersama.

Kemudian yang ketiga.. kalau sudah dakwah yang menjadi prioritas maka ukhuwah. Kalau “iyyaka na’budu wa iyyaka nast’ain” kalau Allah menjadi tujuan kita “na’budu”, kami beribadah bersama, kami mohon pertolongan kepada Allah, kami.. bukan aku.. kami… ‘aku’, ‘kamu’.. lebur menjadi ‘kami’. “shaffan ka annahum bunyaanun marshush” (Ash-Shaff, 61: 4).

Nah, kemudian yang ketiga: maslahah. Kalau sudah ukhuwah, maka ke-maslahah-nya yang dikedepankan. Maslahahnya apa?

Kita di samping masjid Az-Zikra ada mushalla yang berbeda, yang mereka tidak sependapat dengan speaker (aspek) anti-speaker. Mushallanya hancur, bocor, kita bangunkan. Subhanallah… gak ada masalah speaker nggak speaker, maslahahnya untuk ummat biar bisa shalat di mushalla itu. Ya… Allah… ini kemaslahahan yang harus dikedepankan setelah ukhuwah dan prioritas dakwah.

Maka Arifin bahagia sekali, walaupun keadaan hanya bisa melewati ini, tapi Arifin menyayangi semua, ayah, ikhwah fillah, kawan-kawan, juru-juru dakwah.

Ini saatnya bukan lagi retorika-retorikaan, bukan main-main lagi dakwah, bukan lagi eksis-eksis sendirian lagi, ndak perlu lagilah dengan ge-er dengan pujian, ndak perlu lagi sakit hati dengan hinaan.

Saatnya kita menjadi teladan bagi ummat, jadi mata air, jadi cahaya, apa yang di hati itu yang difikirkan, apa yang difikirkan itu yang diucapkan, apa yang diucapkan itu diamalkan, istiqamah,tsiqah, lahir batin ta’at kepada Allah jalla jalaluhu, figur teladan bagi ummat, tidak main-main, tidak lagi menjual-jual, main-main kata, penuh dengan gaya-gaya.

Tidak perlu lagi takut dengan caci maki, hinaan, gosip. Dakwah liyuhiqqal haqqa wayubthilal bathilawalau karihal mujrimun… (Al-Anfaal, 8: 8). Keniscayaan akan dicaci maki oleh orang mujrimun itu.
Fitnah itu memang menyakitkan, kotoran, tapi bagi orang beriman dia bisa olah menjadi pupuk yang menyenangkan, pupuk yang menyuburkan keimanannya.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

(Al Furqan, 25: 63)

Ketahuilah ya ikhwah, yang paling pantas berdakwah itu siapa? Hamba Allah yang istiqamah, yang tidak main-main dengan kata-katanya, bukannya surat Fushshilat (menerangkan),

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا…

(Fushshilat, 41: 30)

Lihat setelah itu,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(Fushshilat, 41: 33)

Mereka yang istiqamah lalu mereka berdakwah,
Ikhwah, al lughah al madzuqah, bahasa itu rasa, ummat itu bisa merasakan mana main-main kata, mana yang serius dalam berdakwah, mana yang istiqamah, mana yang dalam setiap kata-katanya yang benar-benar tulus mencintai ummat.

Maaf ikhwah, kalau Arifin menyampaikan ini. Inilah keadaan sekarang, mudah-mudahan Arifin dan semua ikhwah, Allah bersamakan dalam ridha-Nya, dalam rahmat-Nya, dalam ampunan-Nya, dan hidayah-Nya, dalam berkah-Nya, dalam harakah dakwah-Nya. Kita bersama walaupun tidak harus duduk kita bersama, suatu saat kita duduk bersama lalu kita bersama-sama.

Puncak perjuangan kita adalah tegaknya syari’at Allah di negeri yang kita cintai ini dan tegaknya khilafah Islamiyah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتْوبُ إِلَيْكَ

Banyak salah Arifin, uhibbukum fillah.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. 

Saya ingin Membuat Kedua Orang Tua Saya Menangis

Sudah cukup tenar rasanya cerita Malin Kundang di telinga kita. Ada banyak versi dari cerita rakyat Minangkabau ini. Salah satu versinya adalah Malin Kundang yang hidup miskin bersama ibunya, pergi merantau ke negeri orang. Setelah sukses dan kaya raya, beristri kaya dan cantik, dia ada urusan dagang ke kampung halamannya. Saat itu dia bertemu dengan ibunya, namun tidak mau mengakui ibunya karena malu kepada istri dan para bawahannya. Ibu Malin Kundang menangis karena merasa tersakiti dan berdoa supaya Malin Kundang menjadi batu. Do’a tersebut dikabulkan dan Malin Kundang berubah menjadi batu.
Saya tidak tahu kebenaran cerita tersebut, tapi bukan cerita itu yang mau saya bagi di sini. Saya punya beberapa keinginan untuk membuat orang tua saya menangis. Bukan menangis sedih seperti yang dilakukan oleh Malin Kundang, namun menangis bahagia.
Saya keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan swasta beberapa tahun lalu bukan semata-mata karena ingin buka usaha, lalu ingin cepat kaya. Ya, itu benar, saya tidak memungkiri. Siapa sih yang tidak mau cepat kaya? :D . Terus terang walaupun Nabi pernah bersabda bahwa kebanyakan penghuni surga adalah dari orang miskin, saya belum berani berdoa minta miskin.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ
Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku berdiri di pintu surga, maka kulihat orang-orang yang masuk ke dalamnya kebanyakan dari orang-orang miskin. (HR Muslim K. Dzikir)
Salah satu alasannya, saya merasa belum bisa membalas kebaikan kedua orang tua. Susah rasanya kalau berharap kaya hanya dari penghasilan dari menjadi karyawan biasa. Saya masih punya mimpi, ingin membangun panti jompo, supaya kedua orang tua saya bisa ada di situ. Bukan untuk mengucilkan mereka, namun justru supaya di akhir perjalanan hidup mereka, agama mereka bisa terjaga. Saya bisa mendampingi mereka dan ada pengajian rutin yang bisa diikuti oleh mereka, supaya mereka bisa meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah (akhir yang baik).
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Sesungguhnya amal perbuatan itu dihitung di akhirnya. (HR Ahmad)
Saya ingin membuat kedua orang tua saya menangis di akhir hidup mereka.
Biasanya alasan orang keluar dari pekerjannya dan memilih untuk buka usaha sendiri karena:

  • Ingin waktu yang lebih bebas.

Ingin lebih cepat kaya.
Sayangnya, banyak juga yang setelah keluar dari pekerjaannya, malah kedua hal tersebut tidak didapat. Kaya ngga, punya banyak waktu longgar juga ngga.
Sewaktu jadi karyawan, justru penghasilan teratur. Dengan kerja sendiri, penghasilan tidak tetap dan malah sering kurang.
Sewaktu jadi karyawan, cukup kerja dari jam 8 s/d 17, Sabtu Minggu libur. Dengan kerja sendiri, bisa kerja dari Subuh sampai Isya, kadang Sabtu Minggu juga terus bekerja. Alasannya sih, bersusah-susah dulu, bersenang-senang kemudian. Tapi kalau seperti itu terus, gimana?
Jadi tidak selalu menjadi pengusaha itu lebih baik. Kalau kata Robert Tiyosaki, peulis buku Rich Ad Poor Dad, orang yang usaha sendiri tapi malah makin sibuk, apalagi penghasilannya malah jadi lebih sedikit daripada saat menjadi karyawan, itu masih tetap di kuadran kiri, belum masuk ke kuadran kanan. Mereka hanya pindah jalur dari E (Employee) menjadi S (Self-Employee), bukan pindah ke B (business) atau I (Investor).Tujuan saya keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan di antaranya juga karena kedua hal tersebut. Tapi ada hal yang lain lagi yang saya cari. Sewaktu bekerja sebagai karyawan, saya tidak bisa memfokuskan ibadah saya. Padahal tujuan Alloh menciptakan jin dan manusia adalah untuk menyembah-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku. (QS Ad-dzariyat 56)
Alhamdulillah, dengan niat untuk lebih bisa banyak beribadah, waktu lebih longgar, penghasilan juga tidak jauh berbeda dengan sewaktu kerja tetap. Yang dulu hampir belum pernah mengkaji Kutubu Sittah, sekarang sudah cukup banyak isi. Yang dulu saya hampir belum pernah menghapalkan Qur’an lagi (kalau tidak salah terakhir itu waktu SMU, itu pun terpaksa supaya dapat nilai di pelajaran agama), sekarang sudah lumayan ada yang dihapal walau belum begitu banyak.
Yah…saya memang belum sempurna, masih sering berbuat lahan dan hal-hal jelek lainnya. Tapi setidaknya ada usaha ke arah yang lebih baik.
Keinginan menghafalkan Qur’an di atas terutama karena mengkaji hadits berikut:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ
“Barangsiapa membaca Al Qur`an dan menghafalkannya, maka Alloh akan memasukkannya ke dalam surga serta akan memberi syafa’at (ampunan) kepada sepuluh dari keluarganya yang seharusnya masuk neraka.” (HR Ibnu Majah)
Setidaknya, saya ingin bisa memberikan syafa’at kepada dua orang, yaitu kedua orang tua saya. Berbagai hal di dunia tidak bisa membalas kebaikan orang tua.
لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ
“Seorang anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya hingga ia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu ia membeli dan membebaskannya.” (HR Abu Daud K. Adab)
Itu pun tidak bisa membalas jasanya sejak kecil. Pembebasan itu hanya membalas sedikit jasa orang tua kepada kita. Karena itu, saya mencari cara untuk bisa membalas keduanya di akhirat nanti.
Saya ingin membuat kedua orang tua saya menangis saat di akhirat kelak.

~ ALLAH MEMANGGIL KITA HANYA 3 KALI SAJA SEUMUR HIDUP ~

Ibu berkata ; Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.

Keningku berkerut ;
Sedikit sekali Allah memanggil kita..?’

Ibu tersenyum ;
Iya, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu..?’

Saya menggelengkan kepala.

1). Panggilan pertama adalah Adzan, ujar Ibu.
‘Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar. Ketika kita sholat, sesungguhnya kita
menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak ‘cepat marah’ akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmat Nya, masih memberikan kebahagiaan bagi umat Nya, baik umat Nya itu menjawab panggilan Azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umat Nya ketika hari Kiamat nanti’.

Saya terpaku, mata saya berkaca-kaca… Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meetinglah, mengajarlah dan lain-lain. Masya Allah… Ibu melanjutkan,

2). Panggilan yang kedua adalah Panggilan Umrah/Haji 
Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba- hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya ‘bergiliran’ . Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalan nya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak merencanakan, ternyata akan pergi, ada yang memang merencanakan dan terkabul.
Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan ‘Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan’, sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang ke dua.

Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Mata saya semakin berkaca-kaca… Subhanallah…
Saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rancangkan…
Alhamdulillah…

3). Dan panggilan ke-3′, lanjut Ibu, ‘adalah KEMATIAN.
Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu ,
manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. ..

Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah…

Aside

Betapa allah swt slalu ingin membahagiakan kita di setiap keadaan dan kegundahan kita seolah_olah ia mengingatkan:
“Laa tai’asuu min rauhillah”dan optimislah !
Di penghujung setiap malam
ada pagi yang cerah
di balik setiap bukit ada taman
yang indah
dan di balik batu yang besar
ada mata air yg sejuk
setelah perjalanan jauh
ada sungai yang mengalir
setelah kelelahan ada tempat peristirahatan yang nyaman
setelah kesedihan ada kebahagiaan dan setelah perjuangan ada buah ranum yang siap di petik,,,,

keep smile N spirit friend,,:)

Harapan kita

Aside

*jadikanlah yang lembut itu hati
*jadikanlah yang tipis itu benci
*jadikanlah yang tebal itu iman
*jadikanlah yang tajam itu akal
*jadikanlah yang baik itusifat
*jadikanlah yang manis itu senyuman
*baik buruk ketentuan tuhan
*telah ku terima dengan penuh keikhlasan
*andai buruk ku anggap cobaan
*andai baik q anggap pemberian tuhan,,:)

JADIKANLAH

ANDAI HIDUP SEPERTI COMPUTER

hidup ini sebenarnya seperti program yang ada di dalam computer,,

bila hidup kita ingin lancar dan bebas virus,,

maka lakukanlah hal_hal sebagai berikut,,

_delete semua file kemaksiatan

_installah anti virus nafsu dan syaitan

_re_stars kehidupanmu dengan keberkahan dan kasih-sayangnya

_refesh pribadi kita dengan akhlaq yang santun dan mulia

_download sifat_sifat mulia,ta’at dan taqwa

_upload tingkah laku yang benar,jujur dan ikhlas

_jangan mengundo pengalaman buruk dan sedih

_loading semua dengan do’a dan usaha

_copy dan paste semua hikmah dan ilmu yang bermanfa’at

_Enter sifat tawakal dan ihsan

Semoga program computer kehidupan dunia kita akan berjalan lancar,,

sehingga berhasil memasuki program kehidupan akhirat yang serba otomatis dan canggih,,Image